Pembelajaran Seni Lukis Anak melalui Penerapan Teori Kontruksivistik
K3219017 Asih Sugiwati Penulis Mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa ( http://senirupa.fkip.uns.ac.id/ ) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ( https://fkip.uns.ac.id) Uiversitas Sebelas Maret (https://uns.ac.id)
A. Latar Belakang
Perkembangan psikis maupun fisik pada anak-anak umumnya memiliki fase yang berbeda, semua fase itu berlaku sejak anak prasekolah sampai dengan anak sekolah. Perkembangan yang dimaksud adalah perkembangan pola pikir dan kreativitas anak. Salah satu usaha menumbuhkembangkan potensi anak adalah melalui taman kanak-kanak (TK). Di dalam berkesenian, terutama seni rupa , berekreasi seni rupa bagi anak TK merupakan aktualisasi diri yang pada dasarnya yaitu bermain. Anak TK dalam berekspresi seni memiliki kekuatan untuk menunjukkan karakternya sendiri bagi terwujudnya karya. Pada umumnya, karya anak-anak menunjukkan keunikan, spontanitas, jujur, ekspresif dan orisinil.
Berdasarkan observasi awal oleh peneliti dalam jurnal Pembelajaran Seni Lukis Anak melalui Penerapan Teori Kontruksivistik (https://jurnal.uns.ac.id) yang dituliskan oleh Edy Tri Sulistiyo, Dosen Program Studi Pendidikan Seni Rupa (https://senirupa.fkip.uns.ac.id/) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan https://fkip.uns.ac.id. Pembelajaran yang selama ini ditekankan pada anak-anak TK masih bersifat behavioristik (metode mencontoh), yaitu biasanya guru memberikan contoh pada peserta didik dan ternyata hal itu belum dilaksanakan secara maksimal. Sangat berbeda dari pembelajaran kontruksivistik (penciptaan iklim belajar yang memungkinkan peserta didik untuk dapat mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilan mereka sendiri).
B. Tujuan Artikel Ilmiah
Oleh karena sistem pembelajaran yang masih bersifat mencontoh tersebut, jurnal ini dibuat untuk penelitian tindakan tentang perlunya metode apresiasi dan proses kreasi dalam pembelajaran seni lukis dengan penerapan kontruksivistik dalam meningkatkan kreativitas anak, pemanfaatan fasilitas (sarana dan prasarana) yang diperlukan dalam pembelajaran seni lukis di taman kanak-kanak, pemakaian multi media, kualitas karya lukis anak TK, adanya sistem evaluasi. Hal ini dapat dijadikan bahan rujukan bagi mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan https://fkip.uns.ac.id
C. Pembahasan
Untuk membuktikan efektivitas dari pembelajaran kontruksivistik ini, peneliti melakukan penelitian terhadap peserta didik di TK Atraktif Widya Putra Jaten Karanganyar yang berlangsung mulai bulan Juni 2002 s/d Oktober 2002.
Peneliti ikut langsung bertindak dalam tahap observasi ini. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dengan semua guru TK Atraktif Widya Putra dan analisis dokumen. Kegiatan yang dilakukan pertama yaitu mengurus perizinan, melakukan observasi awal, identifikasi permasalahan dan merumuskan tentang teori belajar konstruktivistik, metode dan materi pembelajaran, fasilitas pendukung, media pembelajaran, kriteria kulaitas karya anak dan sistem evaluasi.
Kegiatan selanjutnya yaitu melatih guru kelas tentang proses mengajar dengan teori kontruksivistik. Menyusun rencana penelitian, menyusun jadwal, menyusun pemantauan pada setiap kegiatan penelitian menggunakan alat yang berupa format observasi, media pembelajaran, dan menentukan sarana dan prasarana.
Pada saat penelitian, peserta didik diberikan media melukis berupa kertas gambar manila putih dan kain dengan berbagai macam ukuran. Zat pewarna yang disediakan berupa oil pastel, spidol, water colors, cat tembok, dan pigmen. Alat yang disediakan yaitu kuas, pisau palet, dan beberapa piring kecil untuk wadah pewarna.
Hasil yang didapatkan dari pembelajaran kontruksivistik ini adalah kualitas karya dari peserta didik lebih baik daripada kelas sebelumnya yang bersifat mencontoh yang mengakibatkan peserta didik tidak bisa berimajinasi secara maksimal dan dapat menghambat kreativitasnya.
Penilaian akhir dari kegiatan melukis ini yaitu dengan pengapresiasian karya yang dilakukan oleh semua peserta didik dengan menunjuk karya mana saja yang menurutnya bagus dan baik. Hal ini melatih peserta didik untuk dapat menilai karya teman-temannya sendiri.
D. Kesimpulan
Berdasarkan rumusan dan pembahasan di atas dapat dikemukakan bahwa proses belajar seni lukis secara kontruksivistik dapat menumbuhkan kreativitas anak, dan pengenalan metode apresiasi karya setelah pembelajaran juga dapat menjadi media bagi anak untuk dapat termotivasi dan lebih mengembangkan kreatifitasnya.
Sumber penuh :
Jurnal penelitian dari Edi Tri Sulistiyo yang diupload di https://jurnal.uns.ac.id Dosen Program Studi Pendidikan Seni Rupa https://senirupa.uns.ac.id Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan https://fkip.uns.ac.id
Supported by https://fkip.uns.ac.id
A. Latar Belakang
Perkembangan psikis maupun fisik pada anak-anak umumnya memiliki fase yang berbeda, semua fase itu berlaku sejak anak prasekolah sampai dengan anak sekolah. Perkembangan yang dimaksud adalah perkembangan pola pikir dan kreativitas anak. Salah satu usaha menumbuhkembangkan potensi anak adalah melalui taman kanak-kanak (TK). Di dalam berkesenian, terutama seni rupa , berekreasi seni rupa bagi anak TK merupakan aktualisasi diri yang pada dasarnya yaitu bermain. Anak TK dalam berekspresi seni memiliki kekuatan untuk menunjukkan karakternya sendiri bagi terwujudnya karya. Pada umumnya, karya anak-anak menunjukkan keunikan, spontanitas, jujur, ekspresif dan orisinil.
Berdasarkan observasi awal oleh peneliti dalam jurnal Pembelajaran Seni Lukis Anak melalui Penerapan Teori Kontruksivistik (https://jurnal.uns.ac.id) yang dituliskan oleh Edy Tri Sulistiyo, Dosen Program Studi Pendidikan Seni Rupa (https://senirupa.fkip.uns.ac.id/) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan https://fkip.uns.ac.id. Pembelajaran yang selama ini ditekankan pada anak-anak TK masih bersifat behavioristik (metode mencontoh), yaitu biasanya guru memberikan contoh pada peserta didik dan ternyata hal itu belum dilaksanakan secara maksimal. Sangat berbeda dari pembelajaran kontruksivistik (penciptaan iklim belajar yang memungkinkan peserta didik untuk dapat mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilan mereka sendiri).
B. Tujuan Artikel Ilmiah
Oleh karena sistem pembelajaran yang masih bersifat mencontoh tersebut, jurnal ini dibuat untuk penelitian tindakan tentang perlunya metode apresiasi dan proses kreasi dalam pembelajaran seni lukis dengan penerapan kontruksivistik dalam meningkatkan kreativitas anak, pemanfaatan fasilitas (sarana dan prasarana) yang diperlukan dalam pembelajaran seni lukis di taman kanak-kanak, pemakaian multi media, kualitas karya lukis anak TK, adanya sistem evaluasi. Hal ini dapat dijadikan bahan rujukan bagi mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan https://fkip.uns.ac.id
C. Pembahasan
Untuk membuktikan efektivitas dari pembelajaran kontruksivistik ini, peneliti melakukan penelitian terhadap peserta didik di TK Atraktif Widya Putra Jaten Karanganyar yang berlangsung mulai bulan Juni 2002 s/d Oktober 2002.
Peneliti ikut langsung bertindak dalam tahap observasi ini. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dengan semua guru TK Atraktif Widya Putra dan analisis dokumen. Kegiatan yang dilakukan pertama yaitu mengurus perizinan, melakukan observasi awal, identifikasi permasalahan dan merumuskan tentang teori belajar konstruktivistik, metode dan materi pembelajaran, fasilitas pendukung, media pembelajaran, kriteria kulaitas karya anak dan sistem evaluasi.
Kegiatan selanjutnya yaitu melatih guru kelas tentang proses mengajar dengan teori kontruksivistik. Menyusun rencana penelitian, menyusun jadwal, menyusun pemantauan pada setiap kegiatan penelitian menggunakan alat yang berupa format observasi, media pembelajaran, dan menentukan sarana dan prasarana.
Pada saat penelitian, peserta didik diberikan media melukis berupa kertas gambar manila putih dan kain dengan berbagai macam ukuran. Zat pewarna yang disediakan berupa oil pastel, spidol, water colors, cat tembok, dan pigmen. Alat yang disediakan yaitu kuas, pisau palet, dan beberapa piring kecil untuk wadah pewarna.
Hasil yang didapatkan dari pembelajaran kontruksivistik ini adalah kualitas karya dari peserta didik lebih baik daripada kelas sebelumnya yang bersifat mencontoh yang mengakibatkan peserta didik tidak bisa berimajinasi secara maksimal dan dapat menghambat kreativitasnya.
Penilaian akhir dari kegiatan melukis ini yaitu dengan pengapresiasian karya yang dilakukan oleh semua peserta didik dengan menunjuk karya mana saja yang menurutnya bagus dan baik. Hal ini melatih peserta didik untuk dapat menilai karya teman-temannya sendiri.
D. Kesimpulan
Berdasarkan rumusan dan pembahasan di atas dapat dikemukakan bahwa proses belajar seni lukis secara kontruksivistik dapat menumbuhkan kreativitas anak, dan pengenalan metode apresiasi karya setelah pembelajaran juga dapat menjadi media bagi anak untuk dapat termotivasi dan lebih mengembangkan kreatifitasnya.
Sumber penuh :
Jurnal penelitian dari Edi Tri Sulistiyo yang diupload di https://jurnal.uns.ac.id Dosen Program Studi Pendidikan Seni Rupa https://senirupa.uns.ac.id Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan https://fkip.uns.ac.id
Supported by https://fkip.uns.ac.id
Komentar
Posting Komentar